Joko
Widodo (kiri) dan Basuki Tjahaya Purnama (kanan) bersiap mengikuti
upacara pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode
2012-2017 dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRD DKI Jakarta di Jakarta,
Senin (15/10). (FOTO ANTARA/Ismar Patrizki)
Justru APBN bisa kita gunakan untuk yang lain. Jadi bukan hanya untuk membangun kereta layang,"
Uckit-Sang-Pencerah
- Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengisyaratkan akan memberikan
persetujuan terlebih dahulu kepada PT Adhi Karya Tbk (ADHI) untuk
membangun monorail.
Alasan
Jokowi lebih memilih proyek monorail sebab dana yang digunakan berasal
dari konsorsium BUMN tanpa melibatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN).
"Justru
APBN bisa kita gunakan untuk yang lain. Jadi bukan hanya untuk
membangun kereta layang," kata Jokowi saat ditemui di kantor Kementerian
BUMN, Jakarta, Selasa (16/10).
Jokowi
berkeinginan BUMN dapat mengajak investor dalam negeri atau bersinergi
dengan sesama BUMN untuk mengerjakan proyek infrastruktur baik monorail
maupun kereta layang.
"Kalau
ada investor yang investor aja. Akan lebih baik lagi BUMN, maka kita
akan lebih senang. Artinya, semua dalam negeri," tuturnya.
Oleh
sebab itu, Jokowi akan memprioritaskan BUMN yang dapat mengerjakan
proyek dengan menggunakan produk dalam negeri. Kendati demikian, Jokowi
menghendaki ADHI dan Hutama Karya mempresentasikan proposal proyek
tersebut.
"Bagi
saya yang penting mereka presentasi dulu. Kita akan lihat presentasinya
murah atau tidak, efisien atau tidak. Kita akan lihat secara
profesional," ungkapnya.
Pada
kesempatan yang sama, Direktur Utama ADHI Kiswodarmawan mengungkapkan,
perseroan akan berkonsorsium dengan BUMN serta mengajak BUMD untuk
menggarap proyek monorail Jakarta. Proyek ini akan terbagi dalam dua
tahap, yakni tahap pertama mulai dikerjakan pada tahun ini dan
diperkirakan selesai 2015 mendatang dan tahap kedua dimulai pada 2015.
"Tahap
pertama ini diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp12--13 triliun.
Dananya berasal dari konsorsium BUMN dan BUMD," ujar Kiswodarmawan.
Sementara
itu, Direktur Utama Hutama Karya Tri Widjajanto menambahkan, perseroan
akan membangun Kereta layang dengan sistem light rail transit (LRT).
Dana untuk pembangunan ini diharapkan berasal dari APBN karena merupakan
transportasi publik.
Sumber : KLIK DISINI
PT. ADHI KARYA: MONORAIL AKAN GANTIKAN BUSWAY
JOKO WIDODO TELAH MEMBERIKAN LAMPU HIJAU KEPADA PT. ADHI KARYA
Selasa, 16 Oktober 2012
 |
Monorail akan menggantikan busway.
|
Gubernur DKI Jakarta Joko
Widodo telah memberikan lampu hijau kepada PT Adhi Karya Tbk untuk
membangun Jakarta Link Transportation Monorail Project di Jakarta dengan
menggandeng Badan Usaha Milik Daerah.
Monorail ini akan menggantikan peran busway yang akan digeser menjadi feeder bus.
Direktur Utama Adhi
Karya, Kiswo Darmawan menjelaskan, untuk membangun Jakarta Monorail
usungan konsorsium Adhi Karya, LEN, INKA itu dibutuhkan kerja sama
dengan BUMD karena proyek tersebut berada di DKI Jakarta.
"Konsorsium BUMN akan di
bawah 50 persen, karena kita sebagai pendidik saja," katanya di
Kementerian BUMN di Jakarta, Selasa 16 Oktober 2012.
Kiswo menuturkan,
monorail yang akan dibangun konsorsium Adhi Karya ini akan menelan
investasi sebesar Rp60,55 triliun. Namun, untuk tahap pertama akan
menghabiskan dana Rp12 triliun yang pendanaannya diambil dari kas
internal dan perbankan.
"Tahap pertama adalah
koridor hijau I, yang akan dikerjakan adalah Tanah Abang 1a dan 2b. Ini
paling mendesak dan urgent," katanya.
Rencananya, dia
menambahkan, monorail ini sepanjang 60 kilometer dan akan menggantikan
121 kilometer jalur busway. Jika telah disetujui secara resmi oleh Pemda
DKI Jakarta, waktu pembangunannya memakan waktu 2-3 tahun.
"Kita akan manfaatkan
tiang-tiang monorail yang terbengkalai. Pengerjaannya akan dilakukan
setelah dapat izin dari Pemda," ujar Kiswo.
Sementara itu, Gubernur
DKI Jakarta Joko Widodo menyambut baik ide Adhi Karya. Setelah monorail
selesai, menurutnya, bus trans Jakarta dapat dialihkan untuk feeder
transportasi di luar Jakarta.
Sebelum dibangun, Gubernur DKI-Jokowi akan Evaluasi MRT
Gubernur DKI Jakarta hanya ingin memastikan fasibility MRT.
 |
Maket MRT
Gubernur DKI Jakarta Joko
Widodo, mewarisi program kerja pembangunan moda angkutan massal (Mass
Rapid Transit/MRT) dari mantan Gubernur DKI Fauzi Bowo. Terkait pembangunan MRT yang tendernya direncanakan akan diumumkan bulan ini, Jokowi meminta PT MRT Jakarta melakukan presentasi terlebih dahulu.
"Silakan mau jalan terus. Tapi presentasi dulu. Terutama masalah harga per kilometernya," ujar Jokowi dalam jumpa pers di Balai Kota DKI Jakarta, Senin, 15 Oktober 2012.
Jokowi menegaskan, ia tidak bermaksud mempermasalahkan konsorsium atau pun kontraktor MRT Jakarta. Namun, ia hanya ingin memastikan feasibility MRT itu sendiri.
"Kepentingan saya saat presentasi itu saja, tak ada yang lain," katanya.
Seperti diketahui, MRT
berbasis rel rencananya akan membentang sekitar 110,3 kilometer, yang
terdiri dari Koridor Selatan – Utara (Koridor Lebak Bulus - Kampung
Bandan) sepanjang 23,3 kilometer dan Koridor Timur – Barat sepanjang 87
kilometer.
Pembangunan Koridor
Selatan-Utara dari Lebak Bulus – Kampung Bandan dilakukan dalam 2 tahap,
yakni Tahap I yang akan dibangun terlebih dahulu menghubungkan Lebak
Bulus sampai dengan Bundaran HI sepanjang 15,2 kilometer dengan 13
stasiun (7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah). Tahap I
ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2016.
Sementara Tahap II akan
melanjutkan jalur Selatan-Utara dari Bundaran HI ke Kampung Bandan
sepanjang 8,1 kilometer yang akan mulai dibangun sebelum tahap I
beroperasi dan ditargetkan beroperasi 2018, dipercepat dari target awal
2020. Untuk tahap ini studi kelayakannya sudah selesai.
Sementara itu, Koridor Barat-Timur saat ini sedang dalam tahap pre-feasibility study. Koridor ini ditargetkan paling lambat beroperasi pada 2024- 2027.
PT. HUTAMA KARYA BAWA PROYEK KERETA LAYANG KE GUBERNUR DKI-JOKOWI
Proyek kereta layang Bekasi-Slipi kini dikaji ulang agar ekonomis.
Proyek Kereta Layang Hutama Karya
|
Terpilihnya Joko Widodo sebagai gubernur DKI Jakarta yang baru, membuka
harapan bagi PT Hutama Karya untuk melanjutkan proyek kereta layang
Bekasi-Slipi. Hutama Karya sedang menyempurnakan konsep kereta layang
agar nilai investasi bisa ditekan, sehingga proyek tersebut menjadi
lebih ekonomis.
"Kereta layang ini lanjut, harus lanjut, karena
ini untuk kepentingan publik. Apalagi, gubernur yang baru ini katanya
peduli dengan kepentingan publik," kata Sekretaris Perusahaan Hutama
Karya, Ari Widiyantoro, di Jakarta, Jumat 21 September 2012.
Menurut
Ari, manajemen tengah mengkaji lebih mendalam proyek kereta layang ini
dengan berbagai alternatif solusi, agar proyek ini bisa lebih murah.
Namun, ia menginginkan adanya insentif dari pemerintah daerah agar harga
tiket kereta layang bisa lebih murah.
Salah satu alternatif yang dibicarakan adalah kombinasi pembangunan kereta layang dengan jalan tol dan dijadikan double decker agar pembangunan lebih murah. "Namun, pasti harus ada subsidi agar lebih ekonomis," katanya.
Kajian terbaru dari Hutama Karya ini diharapkan selesai pada akhir 2012.
Sebelumnya,
Hutama Karya harus gigit jari, karena Menteri Badan Usaha Milik Negara
(BUMN), Dahlan Iskan, menyatakan ketidaksetujuannya dengan proyek kereta
layang Bekasi-Slipi. Namun, Dahlan juga tidak melarang jika Hutama
Karya ingin melanjutkan proyek ini dan mengajukan proposal kepada
Gubernur DKI Jakarta yang baru, Joko Widodo.
Seperti diketahui,
ide proyek kereta layang Hutama Karya ini akan memanfaatkan areal kosong
di median tengah jalan tol milik PT Jasa Marga Tbk sepanjang 100
kilometer. Total investasi yang dibutuhkan mencapai Rp30 triliun.
Dalam
rencana pengembangan kereta layang di median jalan tol ini, akan
terbagi menjadi lima tahap. Tahap pertama Bekasi-Cawang, tahap kedua
Cawang-Semanggi, tahap tiga Bumi Serpong Damai-Taman Anggrek-Semanggi,
dan tahap empat Bogor-Cawang.
Pengumuman Pemenang Tender MRT Jakarta Ditunda
PT. MRT MENGAKU PENUNDAAN TIDAK BERKAITAN DENGAN PENGGANTI GUBERNUR
Pencanangan persiapan pembangunan MRT
PT Mass Rapid Transit
(MRT) menunda pengumuman pemenang lelang tender untuk pembangunan under
ground moda transportasi massal berbasis rel MRT. Pengumuman ditunda
karena masih menunggu klarifikasi proposal calon kontraktor.
Kepala
Biro Humas PT MRT Jakarta, Manpalagupta Sitorus, mengatakan pemenang
tender seharusnya diumumkan kemarin. Dia mengungkapkan penyelesaian
tender memang dijadwalkan pada medio September-Oktober, sehingga masih
on schedule.
Saat ini evaluasi teknis dan harga sudah selesai,
namun panitia masih perlu melakukan klarifikasi atas beberapa hal
terhadap proposal calon kontraktor.
"Karena nilai proyek yang sangat besar dan kompleksitas pekerjaan, ditambah lagi dengan jenis kontrak yang relatif baru yaitu design and build.
Jadi panitia harus cermat dan teliti serta hati-hati dalam mereview
proposal para calon kontraktor untuk mendapatkan hasil lelang yang
maksimal dan sesuai dengan persyaratan dan kebutuhan pembangunan," ujar
Gupta di Jakarta, Jumat, 12 Oktober 2012.
Gupta mengaku
ditundanya pengumuman pemenang lelang ini tidak ada kaitannya dengan
belum dilantiknya Gubernur DKI Jakarta terpilih periode 2012-2017, Joko
Widodo. "Tidak ada hubungannya. Ini semua teknis proses pengadaan,"
katanya.
PT MRT Jakarta memastikan target penyelesaian
pembangunan fisik pada akhir 2016. Tahap awal baru tiga paket yang akan
dikerjakan dengan nilai tender mencapai Rp4-4,5 miliar.
Pembangunan
MRT terdiri dari enam paket yakni tiga paket layang atau elevated dan
tiga paket underground. Dari keenam paket tersebut yang sudah matang dan
siap ke proses selanjutnya yakni pengerjaan paket underground.
Sebelumnya
juga sudah diumumkan bahwa ada tiga nominasi yang diprediksi akan
memenangkan tender untuk mengerjakan dua paket yaitu Shimitzu sebagai
pimpinannya dengan anggota Obayashi, Wijaya Karya, dan Jaya Konstruksi.
Sementara untuk paket
ketiga nominasinya yakni konsorsium Sumitomo Mitsui Contrantion Company
(SMCC) bersama Hutama Karya Join Operation.
Sumber : KLIK DISINI
Ini Konsep Monorel Baru dari PT. Adhi Karya
"Betul-betul produk Indonesia, kaya mobik Esemka."
Adhi Karya mengusulkan proyek Monorel yang tersambung dengan MRT
PT Adhi Karya Tbk kembali mengajukan proyek monorel yang selama ini
hanya menyisakan tiang-tiang beton yang terbengkalai di sejumlah titik
di ibukota. Kali ini, perusahaan konstruksi pelat merah ini bahkan yakin
memperoleh dukungan dari gubernur baru DKI Jakarta, Joko Widodo.
Direktur
Utama Adhi Karya, Kiswodarmawan, di Jakarta, Jumat 21 September 2012,
mengatakan, proyek monorel yang rencananya digarap konsorsium
beranggotakan Adhi Karya, PT LEN Industri, dan PT Industri Kereta Api
(Inka) itu diberi nama Jakarta Link Transportation (JLT).
Dalam
usulan baru Monorel itu, Adhi Karya menjanjikan konsep moda
transportasi yang sepenuhnya dibuat dari produk dalam negeri. Mulai dari
gerbong yang diproduksi Inka dan tiket plus operator dari LEN Industri.
"Sehingga betul-betul produk Indonesia, seperti mobil Esemka," katanya.
Rencananya,
monorel JLT ini akan terintegrasi dengan berbagai moda transportasi
seperti MRT, bus Transjakarta, dan kereta bandara. Monorel ini akan
memiliki panjang 13 kilometer dengan 16 stasiun.
Monorel JLT rencananya akan melewati 21 pusat perbelanjaan, 110 kantor, 16 hotel, 26 pasar dan sekolah serta 19 apartemen.
Untuk
daya angkutnya, Adhi Karya merancang konsep gerbong monorel 4x200
penumpang sekali angkut. "Sehingga orang turun monorel bisa sambung busway, MRT, dan bangunan-bangunan dengan nyaman, cepat dan terhormat," paparnya.
Kiswo
memaparkan, proyek monorel ini tidak memerlukan lahan, karena bisa
dilaksanakan di tepi jalan, serta tidak mengganggu jalan, karena berada
di atas jalan.