Tampilkan postingan dengan label IKHWANUL MUSLIMIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IKHWANUL MUSLIMIN. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Juli 2012

Kisah Ikhwanul Muslimin (VII), Hasan al Banna

Kisah Ikhwanul Muslimin (VII), Hasan al Banna

Hassan Al Banna

(Uckit-Sang-Pencerah) , Ikhwanul Muslimin sampai saat ini disebut sebagai organisasi paling berpengaruh di dunia. Harakah yang kini memiliki jejaring luas di banyak negara, ini, didirikan Hasan al-Banna, di Ismailiyah, Mesir, pada 1928 silam. Saat mendirikan organisasi ini, Hasan al-Banna masih berusia 22 tahun. Dia lahir pada 1906. 

Runtuhnya Khilafah Usmani di Turki, pada 1924, adalah pendorong utama Hasan al-Banna mendirikan Ikhwanul Muslimin. Hasan al Banna banyak terpengaruh pada pemikir reformis Islam Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. 

Ikhwanul Mus limin sangat anti kolonialisme Barat. Di Mesir, sikap itu diejawantahkan dengan upaya menggulingkan monarki yang pro-Barat, serta membantu perjuangan melawan kolonialisme di sejumlah negara. Akibatnya, pada November 1948, pemerintah menahan 32 pemimpin Ikhwanul Muslimin, dan melarang organisasi itu. Tak lama kemudian, Hasan al-Banna terbunuh. 

Dalam revolusi penggulingan monarki di Mesir, Ikhwanul Muslimin yang pada tahun 1948 sudah beranggotakan 500 ribu orang, bahu membahu bersama sejumlah perwira militer nasionalis seperti Jamal Abdul Nasir. Dan, pada 1952, revolusi itu berhasil menumbangkan Monarki. Sejak itulah, pemerintahan di Mesir berubah bentuk menjadi republik. 

Tapi, bulan madu Ikhwan dengan militer berlangsung sing kat. Pada 13 Januari 1954, pemerintahan Jamal Abdul Nasser membekukan Ikhwanul Muslimin. Bukan hanya organisasinya yang dilarang, para aktivisnya pun akrab dengan jeruji penjara. Kondisi itu berlangsung terus di bawah Anwar Sadat dan Husni Mubarak.

Selama periode itu, tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin mengikuti pemilu sebagai perseorangan. Pada 2005, tokoh-tokoh Ikhwan berhasil meraih 88 kursi parlemen, atau 20 persen. Di antara yang terpilih ini adalah Muhammad Mursi-yang kini menjadi presiden Mesir. Hasil pemilu ini, menempatkan tokoh-tokoh Ikhwan sebagai oposisi penting. 

Pelarangan kepada Ikhwanul Muslimin itu baru berhenti sejak Husni Mubarak ditumbangkan Arab Spring. Meski demikian, kali ini Ikhwanul Muslimin memilih tidak terjun langsung dalam pemilu, tapi mendirikan sayap politik untuk ikut pemilu. Ikhwanul Muslimin mendirikan Partai Kebebasan dan Keadilan. Dan, kiprah pertama Partai Kebebasan dan Keadilan di panggung politik negeri Fir’aun itu, langsung memberi hasil mengesankan.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/12/07/16/m79a1a-kisah-ikhwanul-muslimin-vii-hasan-al-banna

Kisah Ikhwanul Muslimin (VI) Siuman Berkat Arab Spring


Kisah Ikhwanul Muslimin (VI) Siuman Berkat Arab Spring
satu tahun revolusi di tunisia


(Uckit-Sang-Pencerah) , Musim semi Arab (Arab Spring), menjadi berkah bagi harakah Ikhwanul Muslimin. Betapa tidak, pemilu yang digelar pascarevolusi penumbangan para autokrat, memberi membuat larangan kepada partai partai yang berafiliasi dan terinsprasi pada Ikhwanul Muslimin dicabut. Mereka pun ikut pemilu dan menang. Dan, kemenangan itu bukan hanya di lembaga legislatif, tapi juga eksekutif. Itulah yang terlihat di Mesir, Tunisia, Maroko. 

Di Mesir, lewat pemilu paling be bas dan demokratis sepanjang sejarah negeri itu, sayap politik Ikhwanul Muslimin memenangkan pemilu presiden dan pemilu parlemen-baik pemilu majelis rendah (majlis al sha’ab) maupun majelis tinggi (majlis alshura). Presiden Partai Kebebasan dan Keadilan, sayap politik Ikhwanul Muslimin, terpilih menjadi presiden sipil pertama di republik Arab Mesir. 

Sebelumnya, di Tunisia, Partai Ennahda-yang menurut pendirinya, Rachid Ghannouchi terinspirasi Ikhwanul Muslimin-- juga memenangkan pemilu legislatif yang digelar pada 23 Oktober 2011 lalu. Partai Ennahda atau Hizb al-Nahdhah yang berarti kebangkitan atau renaisans, ini, meraih 41 persen kursi parlemen. Dan sekretaris jenderal partai itu, Hamad Jebali, menjadi perdana menteri. Padahal, sebelum Arab Spring, Ennah dah merupakan partai terlarang, dan tokoh-tokohnya dipenjarakan. 

Di Maroko, Partai Keadilan dan Pembangunan (Hizb al-‘Adala wa al- Tanmiya)--yang terinspirasi pada Ikhwanul Muslimin-- juga meraih kemenangan dalam pemilu parlemen yang digelar 25 November 2011. Partai ini meraih 107 kursi atau 27 persen dari total 395 kursi parlemen. Dan, seperti di Tunisia dan Mesir, pemimpin partai ini, Abdelilah Benkirane, akhirnya terpilih menjadi perdana menteri. 

Berbilang dekade sebelum partaipartai yang memiliki hubungan de ngan Ikhwanul Muslimin di Turki tersebut memenangkan pemilu, Turki telah memulainya. Sejak era Partai Refah yang dipimpin oleh Necmetin Erbakan, dilanjutkan oleh Partai Keadilan dan Pembangunan yang dipimpin Recep Tayyip Erdogan. Selain meraih banyak kursi di parlemen, Erbakan dan Erdogan juga menjadi perdana menteri. 

Hamas di Palestina juga sebelumnya memenangkan pemilu parlemen pada 25 Januari 2006 lalu, dengan meraih suara sebanyak 44,4 persen yang dikonversi menjadi 75 kursi. Hamas yang didirikan Syeikh Ahmad Yasin, yang juga tokoh Ikhwanul Muslimin Palestina, ini, mengalahkan Fatah yang meraih 41,4 persen suara atau 45 kursi. Tapi, hasil pemilu ini kemudian diberangus atas dukungan Barat. 


Kisah Ikhwanul Muslimin (IV) Skak Mat

Kisah Ikhwanul Muslimin (IV) Skak Mat
Puluhan ribu pengunjuk rasa pendukung Ikhwanul Muslimin berkumpul menentang rezim militer di Tahrir Square, Kairo, Jum'at (22/06)..

(Uckit-Sang-Pencerah) ,Setelah pasti menjadi presiden pilihan rakyat, barulah Mursi mengeluarkan pernyataan ofensif. Jumat , 29 Juli, sehari sebelum pelantikannya di MK, Mursi mendatangi massa di Tahrir Square. Di sana, dia dilantik secara simbolis sebagai presiden. “Tidak ada institusi yang boleh berada di atas rakyat,” tandas Mursi, mengkritik SCAF. 

Pernyataan itu dipertajam dalam pidatonya di Universitas Kairo, sehari berikutnya. Pa da acara yang juga dihadiri Ketua SCAF, Marsekal Hussein Tantawi, itu, Mursi mengingatkan militer agar menghormati keinginan rakyat, serta mengisyaratkan militer agar kembali ke barak. "Militer harus kembali ke peran dasarnya, mempertahankan bangsa dan perbatasan," kata Presiden Mursi. 

Tapi, yang paling menyengat dari pidato di Universitas Kairo, adalah janji Mursi untuk memulihkan parlemen yang telah dibubarkan oleh SCAF. Dan, janji itu dibuktikannya sepekan kemudian. Ahad, 8 Juli, Mursi mengeluarkan dekrit pemulihan parlemen. “Mursi kepada tentara: Skakmat”, demikian headline di harian Al-Watan. Media lainnya menulis Mursi mengalahkan militer. 

Serangan balik Mursi itu, membuat SCAF dan MK kebakaran jenggot. Mereka buru-buru menggelar rapat darurat, serta menyampaikan pernyataan bahwa dekrit presiden tersebut inkonstitusional. Tapi, Selasa, 10 Juli, parlemen yang sudah dibubarkan kembali bersidang. Sehingga, secara faktual, kini ada dua pihak yang memegang kekuasan legislatif, yaitu parlemen dan SCAF.  “Konfrontasi pertama ini”, tulis harian Al Akhbar, “menjadi akhir bulan madu singkat [Mursi] dengan SCAF yang dipimpin Marsekal Hussein Tantawi.”

Peran Ikhwanul Muslimin untuk Kemerdekaan Indonesia

Peran Ikhwanul Muslimin untuk Kemerdekaan Indonesia
Sjahrir dan Al Banna

(Uckit-Sang-Pencerah) , Negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia adalah Mesir. Demikian tertulis dalam buku sejarah kemerdekaan Indonesia.
Tapi, buku-buku sejarah umumnya tak menjelaskan lebih lanjut, mengapa dan bagaimana Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia. 

Pengakuan dari negara lain, merupakan syarat penting berdirinya sebuah negara. Dan, untuk ini, bangsa ini pantas berterima kasih kepada tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin. Sebab, merekalah yang melobi agar pemerintahnya mendukung kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. 

Ikhwanul Muslimin yang saat itu jaringannya telah tersebar, juga menggalang dukungan-dukungan negara Arab lainnya untuk mendukung ke merdekaan Indonesia. Dan, setelah Mesir, negara-negara Timur Tengah lain pun mendukung kemerdekaan Indonesia. 

Para pemimpin Mesir dan negara-negara Arab saat itu, bahkan membentuk Panitia Pembela Indonesia. Mereka mendorong pembahasan soal isu Indonesia di berbagai lembaga internasional, seperti Perserikatan Bangsa Bangsa dan Liga Arab. 

Dalam bukunya, Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, Zein Hassan menulis bahwa pengakuan kemerdekaan itu, pada akhirnya membuat posisi Indonesia setara dengan negara-negara lainnya-termasuk Belanda—dalam perjuangan diplomasi internasional. 

Proklamator Bung Hatta pun menyatakan, “Kemenangan diplomasi Indonesia dimulai dari Kairo. Karena, dengan pengakuan mesir dan negara- negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagai selalu dilakukannya di masa-masa yang lampau.” 

Peran Ikhwanul Muslimin dalam kemerdekaan Indonesia, itu, masih dapat ditelusuri jejaknya dalam artikel bertajuk Ikhwanul Muslimindi Wikipedia. Di sana dicantumkan foto-foto tokoh bangsa seperti Sjahrir dan H Agus Salim yang menemui Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, Hasan al-Banna, untuk menyampaikan terima kasih atas dukungannya terhadap kemerdekaan Indonesia. 

Saat itu, untuk mendukung kemerdekaan Indonesia, Ikhwanul Muslimin kerap mengerahkan massa untuk berdemonstrasi, termasuk menghalau kapal-kapal Belanda yang melewati Terusan Suez. Terutama, saat Indonesia sedang dalam revolusi fisik melawan kembalinya Belanda.

Sumber : republika.co.id