Tampilkan postingan dengan label PALESTINA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PALESTINA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Juni 2012

Mursi, Sang Pencerah untuk Rakyat Palestina

Mursi, Sang Pencerah untuk Rakyat Palestina
Mohammed Mursi, presiden baru Mesi

(U-S-P), Ahmed Al Dairi menatap cemas layar televisi di satu rumah sakit yang ada di Jalur Gaza.
Jantung lelaki berusia 27 tahun itu berdegup kencang. Istrinya yang berada di ruang sebelah sedang berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan anaknya. Sedangkan televisi menayangkan pengumuman pemilu di Mesir.
Keduanya sama-sama penting bagi dirinya. Ini semua tentang masa depannya dan jutaan rakyat Palestina yang merindukan kemerdekaan. Kemenangan Dr Mohamed Mursi, calon presiden dari Ikhwanul Muslimin membawa membawa secercah harapan.
Tak heran, lelaki yang baru lulus kuliah jurnalistik di Gaza itu menamakan anaknya yang baru lahir dengan nama Presiden Mesir itu, Mohamed Mursi. Rakyat Palestina mencintai dan juga menghormati sosok presiden baru Mesir itu.
"Istri dan saya sepakat menamai bayi kami yang baru lahir dengan nama Mohamed Moursi untuk merayakan kemenangannya. Dan kemenangan Partai Kebebasan dan Keadilan itu mewakili Ikhwanul Muslimin," ujar Dairi seperti diungkapkannya kepada situs Al Mishry Al Yaum.
Ketua Komisi Tinggi Pemilihan Presiden Mesir, Farouk Soltan pada Ahad (24/6) mengumumkan Mohamad Mursi sebagai pemenang pemilu.
Mursi meraup 13,2 juta suara. Sedangkan lawannya, Ahmad Shafik hanya mengantongi 12,2 juta suara. Mursi dan Shafik bertarung dalam pemilihan tahap kedua pada 16 dan 17 Juni setelah meraih suara terbanyak dalam Pilpres tahap pertama pada 23 dan 24 Mei.
Ikhwanul Muslimin yang sebelumnya merupakan organisasi terlarang, akhirnya meraih kekuasaan tertinggi di Mesir setelah berjuang selama 84 tahun
Sementara di Gaza, Gerakan Perlawanan Islam (HAMAS) menyambut gembira kemenangan Mursi. HAMAS menyatakan bahwa kemenangan Mohamed Moursi akan meningkatkan dukungan pada perlawanan terhadap pendudukan Yahudi.
HAMAS yang didirikan pada 1980-an, merupakan cabang Ikhwanul Muslimin. HAMAS mengusir pasukan yang setia kepada Presiden Palestina Mahmoud Abbas serta menguasai Jalur Gaza pada 2007.
"Kemenangan Mursi mendorong program yang menolak pendudukan dan setiap kerja sama serta normalisasi dengan pendudukan," kata pemimpin HAMAS, Mahmoud Zahar
Sumber : Antara

Insya Allah, Tak Lama Lagi Palestina Merdeka

Insya Allah, Tak Lama Lagi Palestina Merdeka
Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyeh memegang bendera Palestina dan Mesir dengan latar belakang poster presiden Mesir terpilih Muhammad Mursi di Gaza, Palestina.

(U-S-P) , Tak berlebihan bila disebutkan kehadiran Mohammed Mursi sebagai presiden baru Mesir menjadi kabar baik dan harapan untuk rakyat Palestina.
Penasihat Aqsa Working Group, Yakhsyallah Mansur, mengatakan kemenangan Mursi sangat berkaitan dengan perjuangan kemerdekaan Palestina berdasarkan faktor sejarah. 
"Kalau benar-benar kemenangan ini berasal dari rakyat, maka Insya Allah kemerdekaan Palestina tidak akan lama lagi," ujar Yakhsyallah.
Masyarakat Indonesia, kata Yakhsyallah, akan terus membantu terwujudnya kemerdekaan Palestina. Hubungan antara Indonesia dan Palestina sudah terjalin sejak lama.
Mufti Palestina Syekh Muhammad Amin Al Husaini pada 1944 mendukung kemerdekaan Indonesia, meskipun pada saat itu kemerdekaan belum diproklamirkan.
Syekh Muhammad Amin Al Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi "Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia" dan memberi dukungan penuh.
Oleh karena itu, Indonesia akan memprakarsai Konferensi Pembebasan Palestina di Bandung pada 4-5 Juli mendatang.
Yakhsyallah menjelaskan konferensi tersebut merupakan bentuk dukungan masyarakat Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina karena satu-satunya negara peserta Konferensi Asia Afrika (KAA) yang belum merdeka. "Perjuangan yang dilakukan bersih dari politik. Ini semata gerakan kemanusian, karena apa yang dilakukan oleh Israel tidak manusiawi," katanya.
Dukungan yang diberikan tidak melalui jalan seperti berperang. Namun, bisa melalui berbagai cara, misalnya, kerja sama pendidikan dan budaya.
"Kami telah melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi. Ada dua tenaga pengajar Palestina yang mengajar di tempat kami, dan ada juga mahasiswa Indonesia yang belajar di Palestina," kata Yakhsyallah menambahkan.
Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz Mehdawi mengatakan bahwa apa yang terjadi di negaranya adalah jelas-jelas pendudukan oleh Israel.
Mehdawi mengatakan Palestina sudah mempunyai pemerintahan sendiri, parlemen, universitas, dan rakyat. "Saya sangat yakin, kemerdekaan itu semakin dekat dan dalam waktu dekat, rakyat Palestina akan merayakan kemerdekaannya," kata Dubes Mehdawi.
Merupakan hal yang wajar, kata Mehdawi, jika sebuah perjuangan untuk kemerdekaan memerlukan waktu. Layaknya Indonesia yang berjuang lebih dari 300 tahun untuk kemerdekaan.
"Apa yang kami inginkan saat ini, adalah bebas dari pendudukan militer, agar generasi muda bisa ke sekolah dan beribadah dengan tenang ke Masjid Al Aqsa," kata Mehdawi.
Dia juga berpendapat, masyarakat Palestina memerlukan dukungan dari rakyat Indonesia. Tidak dengan memberikan bantuan, namun dengan menggerakkan perekonomian di negara itu.
"Berbicara itu penting, tapi yang lebih penting adalah aksi nyata. Misalnya dengan datang ke Palestina untuk berwisata, maka hotel, restoran, dan kehidupan ekonomi di sana akan terus menggeliat," ujar Mehdawi.
Palestina adalah satu-satunya dari 106 negara anggota yang hadir dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang belum merdeka.
Pada tahun lalu, Palestina meraih kemenangan diplomatik pertama dalam perjuangan memperoleh pengakuan sebagai negara pada saat komite pelaksana UNESCO mendukung usahanya untuk menjadi anggota.
Pengakuan itu menjadi angin segar bagi rakyat Palestina, yang merindukan kemerdekaan sejak kependudukan Israel lebih dari 40 tahun yang lalu.
 Sumber : Antara