Jumat, 26 April 2013

MENGEJUTKAN, KEBUTUHAN KONDOM DI SUNAN KUNING SEMARANG 14.000 PER MINGGU



Aku-Sang-Pencerah - Semarang : Kebutuhan kondom bagi pekerja seks komersial (PSK) di kawasan resosialisasi Sunan Kuning (SK) Semarang mencapai 14.000 per minggu.

Direktur LSM Griya Asa, dr Bambang Darmawan, mengatakan, setiap PSK di kawasan resosialisasi Sunan Kuning diwajibkan menghabiskan minimal 20 kondom setiap minggu.
Saat ini, jumlah PSK di kawasan resosialisasi Sunan Kuning yang terdata ada 700 orang. Jika setiap PSK menghabiskan 20 kondom per minggu, maka kebutuhan kondom di lokasi itu mencapai 14.000 per minggu.

"Itu peraturan dari pengelola. Habis tidak habis, setiap minggu, setiap PSK wajib mengambil 20 kondom lagi," kata dr Bambang.

Menurut dr Bambang, wajib kondom tersebut sebagai upaya pencegahan penularan virus HIV/AIDS di kawasan resosialisasi Sunan Kuning. "Selain itu, para PSK juga mengikuti pemeriksaan rutin," ujar dr Bambang.
Sebelumnya, LSM Griya Asa menemukan satu PSK di kawasan resosialisasi Sunan Kuning Semarang positif terinfeksi HIV/AIDS dalam kurun waktu Januari hingga April 2013 ini.

Sumber : KLIK DISINI

SEJARAH DEMOKRASI INDONESIA PENGARUHI POLITIK ASEAN



  "  Di ASEAN, Indonesia konsisten dalam mempromosikan demokrasi dan fondasi hak asasi manusia, setelah mereka bertransformasi, dan itu tidak mudah karena banyak sekali rintangan,"   

Jihad-Defence-Indonesia - Jakarta : Proses perjalanan demokrasi di Indonesia sejak jatuhnya rezim Presiden Soeharto pada 1998 hingga kini membawa pengaruh penting bagi kebijakan politik luar negeri negara-negara ASEAN, kata seorang peneliti.

"Di ASEAN, Indonesia konsisten dalam mempromosikan demokrasi dan fondasi hak asasi manusia, setelah mereka bertransformasi, dan itu tidak mudah karena banyak sekali rintangan," kata peneliti Politik dan Hubungan Internasional University of South California Donald E. Weatherbee dalam pemaparan "Kemajuan Politik Luar Negeri Indonesia" yang diselenggarakan Lembaga Persahabatan Indonesia-AS (Usindo) di Jakarta, Jumat.

Profesor yang menulis buku pertamanya tentang sikap politik Soekarno (1966) ini mengungkapkan jalan berliku Indonesia dalam memulihkan kepercayaan negara-negara sahabat setelah reformasi 1998.

Perjuangan untuk menyelaraskan demokrasi, ujarnya, ditandai dari bagaimana negara ini mencoba mereformasi aspek-aspek penting yang menimbulkan "luka" jika mengingat era pemerintahan sebelum 1998, seperti keamanan sipil dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Pembentukan Komisi Nasional HAM setelah 1998 juga menjadi bentuk pujian Weatherbee, walaupun masih lebih banyak lagi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Selain itu, proses penyusunan kebijakan publik yang asalnya hanya melibatkan pemerintah, kini melibatkan banyak ahli di bidangnya seperti praktisi, ilmuwan dan lain-lain telah mengembalikan nilai demokrasi dan menghargai azas manfaat.

"Ini membuka kepercayaan, dan peluang berbagai negara untuk menjalin hubungan lebih dekat, tidak hanya Amerika tapi juga Eropa.... serta Australia," ujarnya.

Weatherbee mengatakan usaha-usaha implementasi demokrasi di Indonesia menular ke berbagai kebijakan dan inisatif perhimpunan bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Seperti lahirnya Piagam ASEAN 2007 yang membuat anggotanya harus mematuhi peraturan yang mengandung nilai demokrasi dan penghargaan terhadap HAM.

Kemudian, lanjut Weatherbee, Indonesia juga berkontribusi penuh dalam pembentukan Deklarasi Hak Asasi Manusia ASEAN 2012. Begitu juga dalam cita-cita pembentukan Komunitas ASEAN pada 2015 yang memiliki pilar komunitas politik dan keamanan, sosial budaya dan ekonomi.

"Masuknya nilai demokrasi ASEAN tidak akan terjadi tanpa demokrasi di Indonesia," katanya.

Namun, penerapan demokrasi juga tidak mudah karena sikap negara-negara ASEAN yang masih "resisten".

"Itu membuktikan ada `lip service` dengan aturan ASEAN," katanya.

Eksistensi Indonesia juga terlihat dalam kepedulian kepada negara-negara di kawasan. Dalam konflik Rohingya di Myanmar, Indonesia berhasil menegaskan sikapnya dan menunjukkan kepedulian.

Weatherbee mengatakan sikap itu menunjukan salah satu bukti sifat kepemimpinan Indonesia yang tak akan surut. "Saya melihat itu sebagai posisi `natural leader`," ujarnya.

Sumber : KLIK DISINI

JOKOWI: MINGGU DEPAN MRT JAKARTA MULAI DIBANGUN

Desain MRT Jakarta (jakarta.go.id)

Uckit-Sang-Pencerah - Jakarta : Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan moda transportasi massal, Mass Rapid Transit (MRT) akan dibangun mulai minggu depan.

"Minggu depan MRT mulai," kata Jokowi di Balaikota DKI Jakarta, Jumat, seraya menyebutkan pengumuman pemenang tender akan menjadi awal pembangunan MRT.

"Argonya sudah jalan kalau sudah pengumuman," kata Jokowi.

Pemenang tender pembangun MRT sendiri sudah diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham kemarin. Namun pihak konsorsium pembangun, PT. MRT Jakarta belum bisa mengumumkan karena masih menunggu sanggahan.

"Tapi kalau sudah mulai, tidak akan ada sanggahan lagi. Cor!" kata Jokowi.

Sebelumnya, beberapa perusahaan mengikuti lelang, diantaranya PT Wijaya Karya (WIKA) dan Jaya Konstruksi.


Perusahaan itu mengajukan untuk pengerjaan paket bawah tanah dari Jalan Sisingamangaraja hingga Bundaran HI. 

Selain itu, ada perusahaan asal Jepang, yaitu Shimizu dan Obayashi, sedangkan peserta lelang lainnya adalah Hutama Karya dan Sumitomo Mutsui Construction Company.

Untuk mendukung pembangunan MRT Jokowi juga menyiapkan tim komisaris yang dipilih dari beberapa ahli seperti Kepala Bappeda DKI Jakarta dan mantan Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas. 

Sumber : KLIK DISINI

Kamis, 25 April 2013

'HACKER' SITUS PRESIDEN RI SBY DIREKRUT MABES POLRI




Uckit-Sang-Pencerah - Jember : Penyidik Cyber Crime Markas Beras Polisi Republik Indonesia (Mabes Polri) mengaku kaget ketika mengetahui bahwa Wildan Yani Ashari—yang berhasil membobol situs Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono—hanyalah lulusan STM jurusan Teknik Bangunan.
Lebih kaget lagi, ternyata pemuda asal Desa Balung Lor, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember, itu masih berusia 19 tahun, tetapi sudah memiliki bakat luar biasa di bidang teknologi informasi (TI).

Demikian kesaksian yang disampaikan Iptu Grawas Sugiarto, seorang penyidik Cyber Crime Polri yang dihadirkan jaksa penuntut umum dalam persidangan lanjutan kasus peretasan dengan terdakwa Wildan Yani Ashari di Pengadilan Negeri Jember (PN Jember), Rabu (24/4/2013).

Grawas adalah salah satu perwira yang ikut menangkap Wildan pada 25 Januari 2013 di Warnet Surya.Com di Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, Jember. Ia juga mengaku menyamar sebagai hacker anggota Jember Hacker Team (JHT) ketika berada di warnet tersebut.

Kepada majelis hakim, Grawas mengungkapkan, Polri memutuskan untuk membina Wildan setelah bebas kelak agar menggunakan bakatnya secara benar. "Yang membuat kami kaget Yang Mulia, ternyata Wildan ini masih sangat muda, anak lulusan STM Bangunan tetapi sangat berbakat di bidang IT. Karenanya, kami dari Mabes Polri akan membina ia kembali ke jalan yang benar supaya kemampuannya dipergunakan secara benar," ujar Grawas.

"Berarti Wildan nanti akan direkrut, jadi apa, apa jadi polisi?" tanya Ketua Majelis Hakim Syahrul Machmud.

Grawas tidak menjawab secara detail, ia hanya mengatakan kalau itu sudah dibahas di tingkat pimpinan Cyber Crime di Mabes Polri.

Seusai persidangan, kepada wartawan, Grawas memastikan bahwa pihak Mabes Polri memang akan mengarahkan bakat yang dimiliki Wildan. Ia tidak membantah bahwa pihak Mabes Polri akan merekrutnya. "Kami akan bina agar bisa tersalur secara baik sehingga tidak menjadi liar. Bisa sekolah dan mendapat penghasilan dari bakatnya itu," tegas Grawas.

Namun, Grawas tidak menjelaskan secara rinci, di mana Wildan akan disekolahkan atau tugas seperti apa yang akan diberikan kepadanya.

Kabar Wildan akan disekolahkan dan direkrut Mabes Polri kali pertama diungkapkan orangtuanya, Ali Jakfar dan Sri Hariyati, beberapa waktu lalu. Orangtua Wildan mendapat informasi itu dari Kepala Sub-Direktur IT dan Cyber Crime Polri Komisaris Besar Winston Tommy Watuliu bahwa anaknya akan diikutkan pendidikan khusus di bidang teknologi informasi.

Wildan dijanjikan menjadi staf Tim Cyber Crime Mabes Polri. Meski demikian, kata Ali, proses hukum Wildan tetap dilanjutkan. Wildan sendiri, ketika ditanya tentang harapannya setelah menyelesaikan proses hukum, menjawab ingin menggunakan keahlian secara baik. Dia enggan menanggapi kabar dirinya bakal direkrut pihak Mabes Polri. "Saya tidak mau menjawab sesuatu yang belum pasti. Kalau sudah pasti, tentu akan saya jawab," kata Wildan beberapa hari lalu. (
Sumber Berita : KLIK DISINI)

 Sumber Via : KLIK DISINI