Jumat, 21 Desember 2012

STADION TAMAN BMW : STADION MASA DEPAN PERSIJA DAN WARGA JAKARTA

Stadion Taman BMW: Stadion Masa Depan Jakarta
Uckit-Sang-Pencerah - Jakarta : Warga Jakarta, khususnya pencinta olahraga, masih menantikan rampungya pembangunan Stadion Taman BMW (Taman Bersih Manusia dan berWibawa). Terlebih lagi The Jak Mania, para pendukung tim sepak bola Persija, tentu tidak sabar menantikan stadion ini dapat digunakan. Pasalnya, Stadion Taman BMW ini akan menjadi “kandang” salah satu tim elit sepak bola Indonesia itu.
Bertolak dari kebutuhan akan stadion, Pemprov DKI merencanakan pembangunan sebuah stadion megah dengan memanfaatkan kembali lahan yang terbengkalai. Pemprov DKI memang dapat dikatakan tidak memiliki stadion. Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) merupakan milik pemerintah pusat, tepatnya milik Sekretariat Negara RI. Sementara Stadion Lebak Bulus, satu-satunya milik Pemprov DKI, rencananya akan dialihfungsikan menjadi sarana fasilitas transportasi. Oleh karena itu, pembangunan Stadion Taman BMW ini diperlukan oleh Pemprov DKI.
Selain stadion sepak bola, di kawasan Taman BMW ini juga akan terdapat fasilitas olahraga lain. Di dalam stadion akan dilengkapi dengan trek atletik. Sementara di luar stadion juga akan dibangun dua lapangan sepak bola untuk latihan. Selain itu, juga akan dibangun dua lapangan sepak bola pantai dan voli. Fasilitas olahraga air pun tidak lupa turut melengkapi rangkaian fasilitas olahraga di taman ini. Stadion Taman BMW ini direncanakan akan dibangun di lahan seluas 10 hektare dari total luas Taman BMW 26,5 hektare. Lahan ini merupakan lahan yang tadinya terbengkalai. Tercatat ribuan penghuni ilegal bermukim di sana pada ratusan gubuk liar. Inilah yang menjadi salah satu penghambat rampungnya pembangunan Taman BMW ini.
Sejak tahun 2009 yang lalu, Pemprov DKI sebetulnya sudah mulai merealisasikan pembangunan stadion ini. Melalui IAI, Pemprov DKI menyelenggarakan sayembara pembangunan Stadion Taman BMW. Dalam persyaratannya Pemprov DKI mewajibkan Stadion Taman BMW ini menjadi stadion yang memiliki kriteria berikut:
- Modern
- Mampu menampilkan bangunan yang dinamis sebagai pengejawantahan gerak olahraga yang juga selalu dinamis.
- Unik, dalam arti kata hanya ada di Indonesia, dan mampu menggali idiom-idiom arsitekur lokal untuk diterjemahkan ke dalam bentuk baru yang modern, unik, dan dinamis.
- Ramah lingkungan, dalam arti konsep bangunan yang mampu memanfaatkan secara optimal potensi site yang ada: danau, kontur, dll, serta tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar.
- Berorientasi ke masa depan.
Dari kriteria persyaratan tersebut, setelah melalui seleksi yang cukup ketat, terpilihlah nama Prasetyo Adi sebagai pemenang sayembara perancangan Taman BMW. Prasetyoadi dinilai menyuguhkan konsep yang sesuai dengan persyaratan dan kriteria sayembara serta filosofinya yang original, tidak menjiplak stadion lain.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang rancangan desain Stadion Taman BMW ini, The Proffmenemui langsung Prasetyoadi yang pagi itu didampingi oleh rekan satu timnya yang mengerjakan rancangan desain Stadion Taman BMW. Ditemui di kantor PDW, di bilangan Pondok Indah, obrolanThe Proff dengan tim pemenang sayembara berlangsung santai. The Proff bertanya bagaimana proses ikut sayembara, proses pembuatan rancangan desain, serta konstruksi dan kemodernan stadion. Berikut hasil obrolan The Proff dengan Prasetyoadi dan rekan.
Proses Ikut Sayembara
Info tentang sayembara didapat langsung dari pengumuman sayembara yang dibuat oleh IAI. Setelah itu barulah tim dibentuk. Dalam mengikuti sayembara, Prasetyoadi mengungkapkan bahwa PDW Arsitektur tidak pernah secara perorangan merancang desain tetapi selalu melibatkan tim. Pada rancangan desain untuk sayembara ini, tim yang merancang desain tersebut adalah Tiyok Prasetyoadi, Nur Muhammad Gito Wibowo, Nur Hidayat Adham, Dyah Fatma, Fenty Anggraeni, dan Herdiyana Ramdhani.
Proses Pembuatan Rancangan Desain
Rancangan desain untuk stadion secara spesifik sebenarnya belum tergambar saat memutuskan untuk mengikuti sayembara. “Ide untuk bentuk fisik stadion datang belakangan, yang paling dipentingkan saat itu adalah bagaimana menggantikan sebuah taman menjadi sebuah gedung olahraga tanpa menenggelamkan fungsi taman itu sendiri”, ujar Prasetyoadi. Namun bagaimana akhirnya mendapatkan bentuk sorban pengantin Betawi ternyata memiliki cerita dan filosofi yang menarik.
Adham mengatakan, “Ide awal rancangan desain bermula dari bentuk lingkaran. Lambang olahraga seringkali berbentuk lingkaran, contohnya Olimpiade yang berlambang lima buah lingkaran berbeda warna yang saling terhubung”. Namun filosofi lingkaran-lingkaran  tersebut hingga menghasilkan desain seperti sorban pengantin pria Betawi bukan hanya sampai pada bentuk lingkaran yang sering dipakai dalam event-event olahraga.
Adham melanjutkan bahwa lingkaran-lingkaran tersebut juga ditinjau dari berbagai aspek kemanusiaan, “Inspirasi desain stadion tersebut sebetulnya diambil dari banyak aspek. Pertama, sebuah pertandingan sepak bola itu kan tidak jarang menyatukan banyak orang dengan suku, agama, dan ras yang berbeda. Pada saat penggambaran desain fasad-nya kami mengandaikan setiap suku, agama, ras, dan negara yang berbeda dengan sebuah lingkaran  yang berbeda warna satu sama lain. Jika lingkaran-lingkaran tersebut disatukan pada satu titik—seperti menyatukan suku, agama, ras, dan negara—mereka akan bersatu namun kita tetap akan bisa melihat karakter mereka masing-masing. Ini digambarkan dengan perbedaan kemiringan dan besar-kecilnya lingkaran”.
Dari lingkaran berbeda kemiringan dan ukuran yang ditumpuk menjadi satu inilah yang akhirnya menghasilkan tampak fasad laiknya sorban yang dikenakan pengantin pria Betawi. Pengambilan analogi sorban pengantin Betawi juga bukanlah tanpa alasan. Selain stadion ini berada di Jakarta, pengambilan analogi fasad yang disandingkan dengan sorban pengantin Betawi adalah karenafasad dan sorban sama-sama digunakan sebagai penghias, pembungkus, dan pelindung. Jika sorban digunakan untuk menghias, membungkus, dan melindungi bagian kepala pengantin pria,fasad juga berguna untuk menghias, membungkus, dan melindungi bagian dalam stadion. “Sorban itu kan dipakai di dalam pernikahan. Pernikahan itu kan menyatukan, sama dengan stadion yang menyatukan dan mempertemukan banyak orang dengan latar belakang yang berbeda“, ujar Adham menambahkan filosofi di balik sorban sebagai desain fasad.
Konstruksi dan Kemodernan Stadion
Untuk material konstruksi, Prasetyoadi mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada kepastian dari pihak Pemprov dan Detail Engineering Design (DED) tentang penggunaan material. Namun dari rancangan yang ia buat bersama dengan tim, konsep fasad akan menggunakan metal panel, walaupun sepertinya dengan banyak pertimbangan akan diganti dengan precast board. ”Untuk fasad, kita tadinya mengusulkan menggunakan perforated metal, besi transparan yang terlihat dari jauh solid tetapi dari dekat transparan. Namun karena lokasi stadion ini dekat dengan laut, kita mempertimbangkan menggantinya dengan bahan lain seperti ragam board atau alumunium, tetapi untuk bahan pengganti ini belum ada keputusan yang pasti. Kekurangan dari bahan pengganti ini adalah tidak perforated. Jadi konsep awal fasad sebenarnya metal panel tetapi sepertinya akan beralih ke precast board”.
Untuk kolom-kolom, pada awal, rencananya akan menggunakan baja. Namun pada akhirnya akan digunakan baja yang dibungkus dengan beton. Sementara untuk konstruksi atap horizontal, akan digunakan membran sebagai materialnya. Pemilihan membran sebagai atap horizontal ini karena membran memiliki massa yang ringan sehingga akan mengurangi beban struktur. Namun sekali lagi Prasetyoadi mengungkapkan bahwa ini barulah rancangan awal yang ditawarkan, penggunaan material baru akan diputuskan selanjutnya, “Tetapi untuk keseluruhan, sebenernya kita belum sampai untuk memutuskan materialnya”.
Berbicara tentang kemodernan stadion Taman BMW ini, Prasetyoadi mengatakan bahwa dia tidak pernah menyebut stadion ini sebagai Allianz Arena-nya Indonesia, seperti yang digadang-gadangkan media. “Saya sih gak pernah bilang kalau ini merupakan Allianz Arena-nya Indonesia”, ujar Prasetyoadi sambil tertawa. Menurutnya kemodernan stadion rancangannya ini tidak lah sama dengan Allianz Arena yang menyertakan teknologi canggih untuk dipakai pada stadion melainkan modern yang berarti memiliki sistem yang modern.
Sistem pertama yang dimaksud adalah sistem keamanan. Sistem keamanan di sini adalah keamanan para penonton saat masuk dan keluar stadion. Pada rancangan Stadion Taman BMW ini, sistem keamanan terdapat pada alur masuk dan keluar. Berbeda seperti yang diterapkan di SUGBK, yang menggunakan banyak pintu masuk, pada Stadion Taman BMW ini,  pintu masuk yang disediakan untuk penonton hanya dua buah. Sistem ini diyakini dapat mencegah penonton tanpa tiket dapat menerobos masuk. Selain itu pintu masuk kendaraan pemain dan penonton juga akan dipisah. Sehingga para petugas keamanan tidak akan terlalu repot menjaga keamanan pemain karena dengan sistem ini penonton tidak akan memiliki kesempatan untuk menjangkau jalur para pemain.
Sistem selanjutnya adalah sistem transportasi. Sistem transportasi, sesuai dengan aturan FIFA, juga merupakan syarat utama sebuah stadion modern. Pada rancangan Stadion Taman BMW ini, direncanakan akan difasilitasi dengan stasiun kereta api. Ini bertolak dari terdapatnya sambungan rel kereta api di sekitar stadion serta berkaca akan lalu lintas Jakarta yang sudah tidak memungkinkan untuk menampung mobilisasi massa penonton yang akan sangat banyak. Pada rancangannya Prasetyoadi membuat agar stasiun kereta terhubung langsung dengan plaza stadion, sehingga memudahan mobilisasi penonton.
Kemodernan lainnya pada stadion ini adalah dengan dibangunnya stadion ini di atas bukit dengan pemanfaatan bawah bukit sebagai lahan parkir. Dengan demikian stadion ini akan ramah lingkungan karena tidak memakan banyak lahan taman untuk area parkir. Selain itu, dengan dibangunnya stadion ini di atas bukit buatan, memungkinkan untuk menaruh layar besar di depan stadion yang digunakan untuk memfasilitasi para penonton yang tidak kebagian tiket untuk menonton di pelataran stadion (Taman BMW).
“Jadi kemodernan di stadion ini bukanlah seperti stadion di luar negeri dengan penerapan teknologi—lapangan yang bisa digeser, atap stadion yang bisa tertutup-terbuka, tetapi lebih kepada koneksi stadion dan bagaimana stadion bersinergi dengan alam. Inilah yang menjadikan stadion ini disebut stadion modern” kata Prasetyoadi menutup penjelasan mengenai kemodernan stadion rancangannya.
Berikut Saya tampilkan desain Stadion Taman BMW : 
 

 
 
 
 
 Sumber Bacaan : KLIK DISINI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar